[Karya Guru] GEOPOLITIK HINDIA BELANDA (Part 1)

Oleh: Muhammad Reza

Sejak mula pertama Islam masuk hingga terbentuknya berbagai kerajaan Islam di Nusantara tak sedikit batu ujian yang dihadapi oleh Ummat Islam. Perlawanan demi Perlawanan di gencarkan terutama kepada kaum penjajah yang hendak merampas hak Ummat. Seiring silih bergantinya para pemimpin, tak jarang harus ditebus oleh tetesan darah para syuhada. Zaman silih berganti namun perjuangan Ummat tak pernah sedikit pun terhenti. Belanda, Portugis, Spanyol, bahkan Jepang pernah merasakan begitu getirnya mereka atas perlawanan Ummat Islam Bangsa Indonesia. Berbagai sektor yang hendak mereka kuasai, mulai dari ekonomi, politik, bahkan militer tapi selalu saja mengalami batu sandungan yang tak jarang mereka harus memutar otak mencari cara menghentikan Perlawanan Ummat Islam. Gugurnya tokoh tokoh penting islam tak membawa perubahan yang besar bagi Ummat bahkan Perlawanan makin sengit diberikan.

Sebagai suatu keniscayaan, bahwa Ummat islam pernah merasakan kejayaan dan pernah pula merasakan kekalahan, terkhusus Ummat Islam Bangsa Indonesia. Perlawanan Ummat Islam melawan penjajah yang telah berabad lamanya kini telah sampai pada titik baliknya. Akhir Perang Sabil di Aceh tahun 1904 menjadi penanda bahwa Ummat Islam perlu melakukan suatu pembaharuan dalam menentukan taktik perjuangan. Namun jelas estafeta perjuangan harus terus digulirkan tanpa ada jeda sedikit pun. Tertangkapnya Tjut Nyak Dien pada tahun 1904 bukan berarti Perlawanan Ummat Islam terhenti, bahkan Ummat Islam kala itu melanjutkan perjuangan yang dimotori oleh H. Samanhudi, seorang saudagar pada zamannya. Beliau memberikan suatu tanda peringatan kepada para kaum feodal dengan melakukan gerakan perlawanan melalui sektor ekonomi. Konsolidasi Ummat yang terhimpun melalui gerakan ekonomi ini dinilai efektif membangkitkan kesadaran ummat. Berangkat atas dasar Ideologi Islam, beliau berhasil membentuk Sarekat Dagang Islam (SDI) pada Oktober 1905. Tak peduli suku dan etnis apapun.

Kehadiran Sarekat Dagang Islam membawa dampak besar terutama terhadap ekonomi rakyat kala itu yang tengah dirongrong dan di monopoli oleh komoditas dagang Belanda dan Tionghoa. Melalui Koperasi Setia Usaha atas dasar asas gotong royong dan kekeluargaan, rakyat mampu keluar dari bayang bayang Belanda dan Tionghoa. Perlahan Rakyat mampu keluar daripada cengkraman sistem kapitalis dan tampil mandiri dengan cara bahu membahu menolong sesamanya. Inilah yang menjadikan rakyat mempu bersatu kembali dan menyadari atas haknya, yakni terlepas dari segala bentuk penjajahan dan perbudakan.

Nampaknya H. Samanhudi betul-betul mengerti akan kebutuhan kondisi rakyat kala itu. Letak Geografis Hindia Belanda yang terdiri dari pulau-pulau mampu ditembusnya, hingga Sarekat Dagang Islam berkembang pesat menjalar keberbagai daerah di kalangan rakyat pribumi.  Pendorong utama lahirnya SDI diberbagai daerah ialah karena kondisi masyarakat Islam tengah hidup dalam keadaan terjajah dan terbelakang pada masa itu. H. Samanhudi melihat Belanda dan Cina sebagai salah satu penyebab keterbelakangan, sehingga pribumi merasa tertekan oleh pemerintahan Belanda. Maka H. Samanhudi mengambil langkah membebaskan dan mengembangkan perdagangan mereka. dan mengembangkan amal usaha dalam rangka menata potensi, memberikan kreatifitas, kelapangan hidup dan kemajuan bagi mereka.

Alhasil melalui SDI inilah islam berkembang pada sektor ekonomi bahkan pernah mengalami persaingan sengit dengan pihak asing. Perkembangan Islam pada bidang ekonomi dapat diperlihatkan dalam bentuk berdirinya organisasi cabang-cabang SDI yang mempunyai tujuan atau keinginan untuk bisa bersaing dengan pengusaha atau pedagang-pedagang asing. Sarekat Daganag Islam hadir dengan maksud memperkuat usaha masyarakat lokal dalam bersaing dengan pedagang asing khususnya Cina. Semua itu terjadi karena, pada saat itu Cina melakukan monopoli perdagangan terhadap pedagang lokal seperti dalam penjualan kain untuk bahan batik, ternyata mereka mempermainkan harga sesuka hati mereka sehingga munculah hasrat pengusaha lokal untuk mengatasi masalah tersebut dengan membentuk organisasi Sarekat Dagang Islam.

Selain itu, Sarekat Dagang Islam sangatlah mudah diterima oleh masyarakat pedesaan dan akhirnya mengalami perkembangan yang sangat pesat dengan dasar ideologi Islam yang dibawanya. Pada perkembangannya, Sarekat Dagang Islam sebagai organisasi yang memilih basis massa mayoritas dari masyarakat mampu mengangkat masalah-masalah tentang kegelisahan masyarakat atas berbagai kebijakan pemerintah kolonial. Hingga orang pribumi menganggap Sarekat Dagang Islam sebagai alat bela diri terhadap kekuasaan kolonial yang terlihat monolitis dan tidak sanggup mereka hadapi sendiri. Oleh karena itulah Sarekat Dagang Islam dalam perkembangannya nampak sebagai lambang solidaritas kelompok yang dipersatukan dan didorong oleh perasaan tidak suka kepada orang Cina, bangsawan, pejabat, mereka yang tidak mendukung terhadap kemajuan rakyat pribumi. Disisi lain, kondisi politik yang diintervensi oleh pemerintah kolonial dengan kegiatan ekploitasinya juga menjadi latar belakang terjadinya sentimen masyarakat kepada golongan pemerintah kolonial.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *