[Karya Guru] GEOPOLITIK HINDIA BELANDA (Part 2)

Oleh: Muhammad Reza

Memanfaatkan kearifan lokal, kerajinan kain batik dan sarung yang merupakan bahan yang sangat di cari masyarakat Muslim Nusantara, baik di kota-kota maupun ke pedesaan serta komunitas institusi pendidikan (pesantren). Memanfaatkan jaringan perniagaan, yang memang telah mapan di berbagai kota diseluruh Pulau Jawa: Solo, Surabaya, Semarang, Bandung, dan Batavia (Jakarta). Memiliki buruh pabrik batik dan rekan dagang bertaraf internasional dari bangsa Arab, Muslim India, Cina, dan Muslim pribumi Nusantara. Kala itu, perdagangan batik mulai dari bahan baku dikuasai oleh pedagang Cina, sehingga pedagang batik pribumi semakin terdesak. Islam hadir sebagai pengikat dan penyatu kekuatan pedagang Islam yang pada saat itu juga mendapat tekanan dan kurang diperhatikan dari pemerintah kolonial. Sehingga garis yang diambil oleh SDI adalah koperasi, dengan tujuan memajukan perdagangan Indonesia di bawah panji-panji Islam.

Seperti diuraikan di atas, kehadiran Sarekat Dagang Islam yang dimotori Haji Samanhudi tahun 1905 perlu menjadi catatan penting, karena organisasi ini menjadi cikal bakal gerakan islamisme yang cukup penting, terutama dalam merespons ekspansi dan dominasi perdagangan batik Cina. Pada sektor ekonomi, pendirian perhimpunan bertujuan: pertama, persaingan usaha batik dengan Cina dan superioritasnya terhadap pribumi berkat keberhasilan Revolusi Cina tahun 1911 dan tekanan yang dialami oleh masyarakat dari kelompok bangsawan Solo. SDI juga bertujuan untuk memperkuat pengusaha lokal dan menentang gaya feodal yang dipraktikkan para pejabat pemerintah pada masa kolonial Belanda. Disamping itu asosiasi ini juga berupaya menyatukan semua pedagang dan pengusaha Muslim lokal tanpa membedakan suku.

Kehadiran Sarekat Dagang Islam menunjukan adanya secerca harapan bagi kaum pribumi. Kesadaran kolektif yang terbangun dikalangan anggota Sarekat Dagang Islam telah menjadi daya kekuatan tersendiri bagi kalangan pribumi umumnya. Ideologi Islam yang dibawa oleh kaum Sarekat Dagang Islam telah mampu merubah cara berpikir kaum pribumi yang kini semakin berani menyuarakan haknya, mau bersusah payah membela akan hak-haknya, terutama sekali kesadaran akan keinginannya untuk melepaskan diri dari segala bentuk penjajahan yang dilakukan oleh Belanda. Terlihat bagaimana Sarekat Dagang Islam dalam perkembangannya yang terus bermetamorfosa dan kian menjalar di masyarakat. Apalagi ditambah dengan kahdiran satu sosok pejuang dari kalangan pribumi yang revolusioner yakni H.O.S Tjokroaminoto.

Cukup enam tahun bagi Sarekat Dagang Islam untuk membangun pondasi awal, satu kesadaran kolektif kepada rakyat hingga akhirnya berubah menjadi Sarekat Islam. H. Samanhudi memberikan kepercayaan kepada pemuda yang revolusioner untuk melanjutkan dan memimpin organisasi Sarekat Islam, ialah HOS, Tjokroaminoto. Dibawah kepemimpinan Tjokroaminoto, Sarekat Islam semakin menunjukan taringnya dihadapan penjajah, bahkan telah menjadi sebuah ancaman bagi pemerintah Hindia belanda. Terbukti bahwa hanya empat tahun (1912-1916) kepemimpinan Tjokro, Sarekat Islam berhasil menggelar Kongres Nasional Central Sarekat Islam di Bandung dengan mengusung Ide “Zelf-Bestuur” (Berkeinginan berpemerintahan sendiri, memiliki aturan sendiri dengan undang-undang sendiri), dengan kata lain Ide Kemerdekaan Nasional. Terlihat bagaimana Sarekat Islam berhasil menghimpun simpatisan dan menggalang kekuatan. Nampaknya belum pernah ada pada zaman itu suatu organisasi yang mampu menggalang kekuatan hingga terkumpul 860.000 orang berhimpun disatu lokasi dengan menyuarakan “Zelf-Bestuur”. Apalagi yang hadir kala itu bukanlah masyarakat sekitar saja, namun juga dari luar kota bahkan luar pulau. Ini membuktikan dengan berubahnya SDI menjadi SI, organisasi ini telah mengalami kemajuan yang pesat secara kontruktif dari jajaran kader hingga kepada anggota-anggotanya.

Inilah yang perlu dipahami bahwa dominasi dan eksploitasi kolonial adalah salah satu bentuk eksploitasi kapitalisme, terkait dengan asal usul, esensi, dan sejarahnya. Oleh karena itu, dalam perjuangan islam melawan dominasi kolonial, kita harus berangkat dari pandangan fundamental yang sama yakni perjuangan melawan kapitalisme. Di antara berbagai motif yang menyebabkan terjadinya penjajahan, unsur ekonomi merupakan unsur yang penting. Menilik dari sumber daya alam, Di Timur Jauh terutama rempah-rempah adalah sangat berharga nilainya, juga menarik bagi orang asing. Keuntungan besar yang diperoleh dengan demikian menjadi dasar bagi perkembangan industri kapitalisme lebih lanjut, yang pada gilirannya meningkatkan kepentingan di negeri Eropa.

Perkembangan kapitalis lebih lanjut, sebab perlawanan dari orang-orang yang tereksploitasi rendah karena ketakutan dan kalah persaingan dari negara-negara kapitalis lain adalah alasannya. Perkembangan kapitalisme dan industrialisme Barat yang semakin maju telah melahirkan, dan terus berlanjut, hingga terjadi perluasan wilayah jajahan dan eksploitasi yang intensif atas koloni-koloni. Tuntutan untuk koloni telah memicu kecemburuan besar di antara berbagai negara industri, dan telah menimbulkan perang pada beberapa kesempatan. Bagaimanapun kepemilikan koloni itu menimbulkan bahaya perang. Tentunya bagi kalangan Pribumi yang mana dimotori oleh pergerakan organisasi islam (SDI-SI) setidaknya telah menjadi bukti bahwa Umat Islam mampu bangun dan bangkit melawan segala bentuk penjajahan dan perbudakan yang dilakukan oleh kaum kapitalis Belanda. Bukan hanya sekedar permasalahan politik-ekonomi namun yang paling fundamental adalah perlawanan atas ideologi kapitalis itu sendiri.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *