[Karya Guru] Seribu Warna Bianglala (Part 1)

Oleh : Syifa Nuraini L

Kau selalu suka menatap langit kala hujan sudah melampiaskan hasratnya, membiaskan butiranbutiran air yang terpantul sinar mentari, menjelma menjadi bianglala. Setiap kali aku menceritakan
bianglala padamu, matamu berbinar-binar. Ada gurat bahagia yang tak mampu ku terjemahkan,
hanya kau yang dapat mendeskripsikannya. Aku meyakinkan padanya, bahwa warna bianglala
tidak hanya mejikuhibiniu, tetapi masih ada seribu warna yang dapat dibiaskan. Kau begitu
semangat mendengarkan ceritaku tentang bianglala. Aku pun menaruh banyak bianglala dalam
kedua bola matamu, agar sinar matamu tak pernah meredup, mewarnai kelopak-kelopak mataku
saat ku terpejam. Aku berikan bianglala pada pupilmu, irismu, bahkan semua indera yang kau
punya, agar kau bisa melihat dan merasakan keindahan bianglala setiap hari. Akan ku pastikan
warna kelabu tak pernah nampak dalam bola matamu, karena aku tahu, kau menyukai bianglala
dengan aneka warna yang indah. Kau mengenaliku sebagai bianglala dengan warna utama, biru,
merah, dan kuning. Kau menyukainya, sangat menikmatinya.

Sudah tiga tahun kau simpan warna-warna bianglala yang selalu saja kita nikmati kala hujan sudah
turun. Lalu kita duduk berdua, bercerita tentang bianglala. Kau menatap mataku dengan penuh
makna. Kala itu, bianglala terpancar jelas dari kedua bola mataku, yang segera berpindah pada
kedua bola matamu. Kau dan aku menikmati senyuman kala kau dan aku terhanyut dalam seribu
warna bianglala yang ku tawarkan. “Begitu indah, aku ingin warna lainnya. Jangan kau beri aku
warna kelabu. Aku tak suka itu.” Selalu kau ucapkan kalimat itu saat aku menceritakan seribu
warna bianglala padanya. Aku pun mengangguk, berjanji untuk tidak memberikan warna kelabu
padanya. Akan ku sembunyikan, bahkan kalau bisa ku hapuskan warna kelabu dari daftar seribu
warna bianglala. Biarlah kekasihku menikmati indahnya warna-warna yang ku berikan pada kedua
bola matanya. Apa pun akan ku berikan padanya, asal matanya selalu bisa menikmati bianglala
yang dia suka.

Hingga pada suatu hari, kala itu hujan turun dengan derasnya. Petir terdengar sambung
menyambung, diikuti cahaya kilat yang menyilaukan mata. Aku berharap mentari akan muncul
kala hujan berhenti, agar dapat membiaskan bianglala. Namun pada hari itu, bianglala tidak
muncul dari langit kelabu. Kau pun sedih, kecewa, karena tak dapat melihat bianglala. Aku
berusaha menyakinkanmu, bahwa bianglala dalam bola matamu tetap ada, tidak pudar, bahkan kau
bisa menikmatinya sendiri tanpa membagikan keindahannya kepada yang lain. Kau tidak terima,
lalu pergi dalam derasnya air hujan yang mengguyur dengan hebatnya. Ku tunggu beberapa saat
sampai langit berwarna biru, namun bianglala tak nampak juga. Akhirnya aku memutuskan untuk
menyimpan warna bianglala lainnya untuk dinikmati oleh kekasihku esok hari.


Hari berganti, kemarau pun tiba. Tak ada lagi bianglala yang bisa kita nikmati bersama. Tawamu
melesu, tak lagi kau tanyakan berapa banyak warna bianglala yang sudah ku simpan untuk kau
nikmati saat bianglala tak bisa muncul. Namun kau memutuskan untuk pergi sendiri, mencari
warna bianglala yang belum kau punya.

“Berikan aku waktu untuk mencari bianglala, melengkapi warna bianglala yang tidak kau punya,”
Ucapnya sebelum kami memutuskan untuk melewati hari-hari tanpa kebersamaan menikmati
indahnya bianglala.

“Akulah bianglala dari segala warna yang kau cari. Seribu warna bianglala. Kau hanya tinggal
menunggu. Sebentar lagi hujan akan tiba.” Satu warna bianglala mulai meredup dari mataku.

Kekasihku menggeleng dengan penuh keyakinan, lalu meninggalkanku yang terpaku pilu di bawah
pohon yang meranggas termakan kemarau. Satu warna bianglala pudar lagi, saat aku
menyaksikannya benar-benar pergi. Semilir angin mengantarkan bayang kekasihku yang segera
lenyap dalam sendu kelabu, sore itu.


Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *